Berimajinasi lewat Kostum Ketiga dan Seterusnya

Juventus menjadi lelucon di media sosial setelah merilis jersey ketiga mereka. Oranye dan hitam, seragam tersebut menyerupai pakaian organisasi masyarakat di Indonesia. Bandarq mengatakan dalam sekejap mata, tangan usil bergerak cepat.

Logo Juve telah diganti dengan logo organisasi. Cristiano Ronaldo dan Paulo Dybala “memakai” kemeja dan topi seolah-olah mereka adalah kader organisasi pemuda. Begitu pula dengan karakter ormas yang mengenakan kostum Juve ketiga di musim baru. Yang hebat adalah keterampilan Photoshop dapat dipelajari dengan mudah dengan mengetik “Bagaimana melakukan sesuatu” di toolbar Youtube. Pengolahan foto digital adalah keterampilan dasar setiap desainer grafis di era industri 4.0.

Namanya juga humor, bahkan lelucon lokal. Dilihat hanya sebagai metode relaksasi. Tidak perlu tersinggung. Yang pasti dengan seragam ketiga, layar Juventus melebar, mereka mundur untuk menjauh. Tentu bukan cerita baru bahwa seragam tim sepak bola menjadi bahan lelucon. Sementara kompetisi masih belum usai dan hasil pertandingan belum keluar, pelepasan jersey menjadi sasaran empuk pendukung rival untuk melontarkan komentar-komentar liar. Tentu saja, ketiga desain tidak hanya seragam. Namun, karena seragam ketiga biasanya cenderung tanpa proses kreatif, pakaian ini kerap menjadi bahan tertawaan.

Musim ini, tampaknya ada persaingan di mana klub merilis jersey terburuk ketiga. Chelsea sempat diejek oleh Crystal Palace melalui Twitter, karena kemeja ketiga mereka dengan garis vertikal biru-merah menyerupai warna tanda tangan Eagles. Coba perhatikan garis-garis yang tidak akurat pada kaos ketiga MU yang diasosiasikan dengan zebra.

Liverpool juga terkesan. Setelan hitam ketiga The Reds tampak seperti papan catur. Juga, terlihat mirip dengan kemeja toilet Kroasia. Arsenal, sementara itu, memainkannya dengan tema ‘Keluarga’, meski harga eceran jauh dari ramah keluarga.

Berbicara soal Arsenal, klub Italia AC Milan musim ini memiliki jersey ketiga yang mirip dengan jersey The Gunners pada musim 2017-18. Gradien biru laguna Puma tampaknya mengubah logo klub.

Siapa lagi yang memakai kostum ketiga yang eye-catching? Jelas akan lebih lama jika versi yang lebih lama disertakan. Di musim pertama Pep Guardiola bersama Manchester City, jersey ketiga Cityzens terlihat seperti Blue Ocean Squash yang tidak bergerak. Musim lalu mereka menggunakan grading warna sirup lagi.

Jersey hitam Real Madrid musim 2014/15 keren banget kalo naganya tidak berputar di bawah logo Fly Emirates. Norwich City pernah memiliki koleksi seragam yang menyerupai model kursi bus saat menang di awal 1990-an.

Lalu cerita menabung. Bagian penting dari teknik pemasaran apa pun. Terkadang pesannya hilang, tetapi banyak yang benar. Ia menyebut seragam ketiga MU musim 2020/21, katanya, mempertanyakan komposisi warna seragam di awal keberadaan klub lebih dari 100 tahun lalu. Desain penuh gaya yang digunakan di tahun 70-an dan 80-an, kemudian diperbarui dengan cara modern untuk awal tahun 20-an.

Meski Chelsea jelas tidak meniru Crystal Palace. Sebagai gantinya, ia mengambil komposisi warna kit dari tahun 1992 hingga 1994, dan juga terinspirasi oleh sepatu Nike Air Max 180 asli.

Selain The Blues, Nike sebenarnya sudah merilis jersey dari tiga klub elite yang mereka dukung, di antaranya Barcelona, ‚Äč‚ÄčAtletico Madrid, RB Leipzig, AS Roma, Tottenham Hotspur, dan Galatasaray dengan konsep desain sepatu Air Max. Inter memberikan penghormatan kepada jersey tim yang memenangkan Piala UEFA pada 1997-98. Nerazzurri hanya perlu mengejek kit jarak jauh seperti serbet atau meja Tic Tac Toe.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *